Perempuan Jawa Kuno Setara dengan Laki-laki

ZOOMPada masa Jawa Kuno, yaitu antara kurun abad ke-8 sampai 15 Masehi, hampir di semua aspek
kehidupan masyarakat, kedudukan dan peranan perempuan telah setara dengan laki-laki.
Perempuan pada masa itu, telah menjadi mitra yang sejajar dengan laki-laki. Mereka dapat
bergerak di ranah domestik, sekaligus
di ranah publik.

Demikian diungkapkan oleh Titi Surti Nastiti pada promosi doktor program studi arkeologi dalam bidang ilmu pengetahuan budaya yang dipertahankannya di depan Sidang Akademik Universitas Indonesia (UI) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (4/8).
Peneliti madya pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional itu, dalam bagian penutup disertasinya, menyebutkan pula, apa yang baru diperjuangkan oleh perempuan-perempuan di Eropa dan Amerika Serikat, untuk bisa setara dengan laki-laki pada tahun 1960-an, dengan gerakan-gerakan feminisnya, bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh kaum perempuan dalam masyarakat Jawa Kuna.
“Karena kedudukan dan peranan mereka di berbagai bidang telah setara dengan laki-laki,” ujar Titi dalam disertasinya yang berjudul “Kedudukan dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII-XV Masehi)”.
Dalam sidang akademik yang dipimpin oleh Dekan FIB UI, Dr Bambang Wibawarta, Titi Surti Nastiti yang akhirnya dinyatakan lulus dengan predikat cum laude itu, mengungkapkan banyak bukti dari data tekstual maupun data artefaktual, yang menunjukkan peran perempuan di berbagai aspek kehidupan. Misalnya, ada data yang menyebutkan laki-laki maupun perempuan yang menduduki jabatan tertentu dalam pemerintahan, seperti termuat di Prasasti Jurunan (876 Masehi) dan Prasasti Waringin Pitu (1477 M), yang menyebutkan nama-nama pejabat desa dan penguasa daerah.

Tak Diragukan
Disebutkan pula, laki-laki maupun perempuan melakukan kegiatan dalam bidang sosial, dengan menghadiri upacara peresmian, demikian pula kegiatan di bidang ekonomi dan kesenian, serta kegiatan-kegiatan lainnya.
“Kedudukan dan peranan perempuan pada masa Jawa Kuna dalam bidang ekonomi tidak perlu diragukan lagi, terutama perempuan dari kalangan rakyat biasa. Mereka membantu perekonomian keluarga, dengan membantu suami menggarap sawah atau ladang. Di sela-sela kesibukan bekerja di sawah/ladang, dan menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga, mereka membuat barang-barang kerajinan,” tutur Titi.
Selain barang-barang kerajinan dari kain, para perempuan itu juga membuat barang-barang anyaman, barang-barang dari tanah liat, gula, minyak, dan sebagainya, yang digunakan untuk keperluan sendiri dan dijual. Para perempuan itu juga, andal dalam berniaga, dan menurut Titi, mereka melakukan perdagangan tidak hanya di tingkat desa, tapi mungkin sampai tingkat regional dan internasional.
Titi juga mengungkapkan bahwa kesetaraan kedudukan dan peranan antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat Jawa Kuna, berakar pada budaya yang tidak membedakan hak waris bagi laki-laki maupun perempuan di semua kalangan. Budaya ini tidak berubah dari masa ke masa, mulai dari masa Mataram Kuna sampai masa Majapahit. [B-8]

Pengumuman

Awal Kuliah Semester Gazal Mulai Tanggal 20 September 2010
Awal kuliah Semester Gazal Tahun Akademik......

Budi Santoso: Mahasiswa FKIP UNISMA Memperoleh Beasiswa Prestasi dari POLYGON
Budi Santoso, mahasiswa Jurusan PBSI FKIP UNISMA......
FKIP UNISMA Buka Bersama 6 September 2010
FKIP UNISMA akan menyelenggarakan buka bersama......
Ribuan Mislimin Ikuti Zikir dan Khataman al-Quran
Ribuan Muslimin Ikuti Zikir dan Khatam......
Jadwal Ujian Skripsi & Yudisium Juli 2010
......
Yudisium Mahasiswa (Semua Periode Yudisium)
......
Tata Cara Pendaftaran Ujian Keislaman-Skripsi
Ujian Skripsi dan Yudisium Periode IV Juli 2010......
Temu Alumni Nasional FKIP UNISMA Meriah
. Acara Temu Alumni Nasional  FKIP......
Ketentuan Pembuatan Makalah
Ketentuan Makalah: Panjang makalah maksimum......
Temu Alumni AKBAR FKIP UNISMA 10 Juli 2010
Hari Kamis sore 27 Mei 2010 pukul 14.00 WIB......

[Arsip Pengumunan]